Minggu, 04 September 2011

Mengenal Dia (Aliana )


                   Sore hari aku menjadi salah satu instruktur ekstrakulikuler dengan beberapa rekanku di salah satu sekolahan, tempatku bekerja, tugasku meliputi menguji fisik calon  siswa – siswi sekolah sekolah menengah pertama (SMP).
                   Ketika sedang bertugas pandanganku tertuju pada salah seorang siswi, dia memakai baju berwaena biru sedang manjalankan hukuman dari salah satu rekanku, diapun terus berhitung 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10 menghitung jatah push-up yang di perintahkan oleh instruktur, aku mendekatinya ketika dia selesai push-up, kepada rekanku aku meminta agar dia melimpahkan pimpinannya kepadaku, dan aku mengambil alih pimpinan.
Akupun mendekati siswi tersebut.
“Sudah cukup push – upnya segera berdiri perintahku untuknya !”
“Makasih kak !” ia menjawab perintahku
Akupun kembali memerintahkan dia untuk merapihkan pakaiannya “kerapihan! Balik kanan grak!” “Siap” jawab dia dengan lantang.
Diapun balik kanan dan merapihkan pakaian yang terpenuhi debu debu, “pukh…pukh…” terdengar oleh telingaku tangnya yangmerapihkan baju.
“Kerapihan selesai!” perintahku padanya, “siap..!” jawanya “balik kanan grak!” perintahku padanya.
                   Diapun membalikan badannya menghadap pandanganku. Tatapanku tertuju pada papan nama yang ada di dadanya, kulihat tulisanya yang kecil membuatku harus teliti membacanya, ternyata dia bernama aliana, nama yang cantik, tentunya secantik orangnya.
“Gimana capek ga?” ujarku untuk mengawali pembicaraan
“Lumayan capek kak!” jawabnya yamh sedikit terengah – engah,”
“Mau di tambah hukumannya” sedikit gurauan untuknya,”
 “Jangan!! Jangan Di tambah Kak!” diapun sedikit kaget akan pertanyaanku,
“Hehee Tenang saja kaka Cuma becanda”
“ Huff…. Dia pun mengelus-elus dadanya “untung saja becanda, kaka ngagetin aja”
“Yaudah sana  istirahat dulu gih.. biar hilang capenya!” dia pun beristirahat.
                   Ketika aliana beristirahat aku menuju ruangan tempat berkumpul para instruktur, aku berkata pada salah satu instruktur.
“Hey brow… da siswi yang bakalan jadi bunga sekolah tuh… cuakep brow, sumpah Gw ga bohong!”
 “Dasar loe sih cewe melulu, bukannya melatih malah Lirik kanan – kiri Cewe, emanganya yang mana se?” dia pun terheran –heran akan siswi yang aku maksud.
“Ne gw kasih tahu tuh ..  yang lagi duduk di tengah – tengah” aku pun menunjukan aliana yang kala itu sedang ber istirahat dengan teman – temannya di samping lapangan.
 “Waduh… selera gw kalah dong sama lho, wah… beneran ne cewe bakalan jadi bunga sekolah?”
“Hits..hits awas loe jangan di ganggu gugat buat gw tuh, Cakepkan?” sedikit mengancam pada rekanku”
 ”Iya deh lagian gw sih dah tua nyarinya ga seumuran gitu, cocoklah buatmu yang masih kelas satu SMA sih…! Emangnya siapa namanya”
“Sipp lah, jadi ngedukung nie? Namanya aliana Cakepkan namanya ?”
“Gw dukung penuh dirimu, cakep juga se namanya.” ”dah akh gw mau ngelatih dulu lihat tuh waktu istirahat selesai”
                   Setelah waktu istirahat selesai aku memerintahkan aliana dan teman – temannya untuk kembali ke lapangan guna melanjutkan kegiatan yaitu; baris – berbaris, akupun melatihnya baris berbaris dari mulai , sekap sempurna, hadap kanan, hadap kiri, lencang kanan, lencang kiri, dan sikap hormat, ketika hormatlah bisa di bilang aku cari kesempatan dalam kesempitan, dengan sengaja aku memegangi tanganya, dan berkata padanya, “sikap hormat kamu salah” kupegang tangnya, sambil meluruskan telapak tanganya yang bengkok saat sikap hormat, berkali-kali aku memeganginya akan tetapi dia tidak menyadarinya, kesekian kalinya kupegangi lagi tangannya dan berkata padnya, “kalau hormat ibu jarinya lurus jangan bengkok!’’ diapun meluruskan ibu jarinya, namun dia belum tersadar bahwa aku sengaja memenganginya.
Terlarut aku dalam kegiatan itu, sampai aku lupa akan waktu, kini tiba saatnya Pembina untuk melatih langsung para peserta dan kamipun para instruktur beranjak dari lapangan, karena pimpinan sepenuhnya di ambil alih olehPembina, aku menuju tempat duduk yang berada di samping lapangan yang sangat rindang, di sinilah aku memperhatikan aliana yang sedang mengikuti latihan langsung oleh Pembina, namun aliana tidak tersadar bahwa aku sedang memperhatikannya dan sedang menatapnya di kejauhan.
Cukup lama mereka dilatih oleh Pembina, kulihat sungai-sungai keci mengalir didahi dan tanganya, tapi semangatnya masih terpancar dan dia tetap mengikuti latihan, sedangkan teman – temanya banyak yang sangat kelelahan.
Akhirnya waktu latihan bersama pembina selesai, saatnya peserta untuk beristirahat dan membuka bekal yang sudah mereka bawa dari rumah, akupun di perintahkan ole Pembina untuk memimpin peserta untuk makan, langsung tanpa basa – basi aku memimpin peserta. Aku menyuruh mereka membuka bekal, setelah itu berdoa sebelum makan, dengan lahapnya mereka menyantap bekal yang telah mereka bawa dari rumah mereka sendiri.
“Perhatian!!” pada saat makan dilarang berisik!yang berisik kaka akan hukum di lapangan  ‘seruan ku pada peserta’ saat itu aku tepat di samping aliana, makan pun dimulai, aliana menawari aku makan “kak… makan” “silahkan” jawabku. Pesertapun sangat khidmat menjalankan aktifitas makan, sangat menikmati bekal yang mereka bawa, begitupumaku yang khidmat menatap aliana yang sedang makan.
Kegiatan makanpun usai kini beranjak pada kegiatan shalat asyar berjamaah, akupun segera memerintahkan pada peserta untuk melakukan shalat asyar, dan aku bergegas menuju mushola untuk menjadi imam sholat.
Setelah kegiatan sholat selanjutnya yaitu apel sore, apel sorepum dimulai pasukan mengikuti kegiatan paling akhir hari ini, tak lupa kami para instrukturpun mengikuti apel sore, saat apel sore berlangsung pandanganku tidak bisa teralih pada aliana, yang berdiri jauh tepat di hadapanku, selalu ku pandangi dia sampai apel sore usai.
Apel sorepun usai kini saatnya pasukan pulang kerumah masing-masing, kulihat begitu deras kucuran keringat diantara dahi dan tangannya, dia pun membersihkan keringatnya dengan handuk yang terselip di pinggangnya sambil berjalan menuju gerbang, dan alianapun masih sibuk dengan handuk yang ada di tanganya untuk menghapus keringatnya, saat aliana berjalan menuju gerbang untuk pulang kerumahnya, tak hentinya aku menatapnya di balik jendela ruang hall sekolah, kulihat ayahnya sudah menunggu di depan gerbang dan siap mengantarnya untuk pulang.
Hilanglah pandangan indahku setelah aliana berlalu pulang, tapi tak apa hari esok aku akan bertemu dengannya kembali, karena dia besok berangkat sekolah sedangkan aku salah satu pekerja Tata Usaha di sekolahnya.
Saat latihanlah kali pertama aku mengenal aliana, sosok yang sedikit pendiam, tapi penuh dengan semangat, aliana, mulai detik ini kau menjadi bagian dari kisahku.

Di pagi hari
Kerinduanku pada parasnya mungkin akan terobati di pagi hari ini, aku yang kehilangan pandangan indah sare kemarin, detik ini akan terobati, ya.. benar mengang benar, kerinduanku terobati setelah semalaman tak hentinya diriku memimpikan dan merindulkannya.
Pagi ini dirinya bersekolah dimana sekolahnya merupakan tempat aku bekerja sebagai stat Tata Usaha, aku menanti kedatangannya di balik jendela ruang hall dengan di temani secanglir teh hangat di pagi yang cerah ini, aku mengawasi setiap siswi yang baru datang kesekolah, namun tak kunjung juga ku dapati dia datang, sendangkan waktu tealah menunjukan tepat pukul 07.30 daipun tak kunjung datang, tiada lelah aku menanti kedatangannya, sampai akhirnya datang jugu seseorang yang ku harapkan, aliana, di lihat di luar gerbang dia turun baru saja diantar ayahnya, perlahan langkahnya memasuki gerbang sekolah akupun tak henti memandanginya, diapun mulai memasuki gerbang ke dua dari sekolahku aku segera berlari menuju gerbang ke dua yang tepat berada di samping ruang guru.
Tepat sekali aku berada di hadapannya, akhirnya bertemulah aku dan saling berhadapan tatapanku tak lepas dari matanya, sedikit senyumpun ku berikan padanya, diapun membalas senyumku. Mulailah aku berkomunikasi dengannya, kuawali dengan sapahan hangat untuknya.
“Selamat pagi!!” Aku yang menyapa dengan penuh keramahan, “gimana kemarin cape ngak latihannya?”
“pagi juga kak”, lumayan sih kak masih ada sisa-sisa pegel ne”?
“ tapi serukan kemaren?” maaf ya… kemaren dah ngehukum kamu!”
“ Seru banget kak…! ,ahk.. ngal apa-apa kak lagian salah aku juga yang kurang di siplin.”
“ Mau kelas ya? Barengan yuk… maka kaka, kaka juga mau ke kantin mau sarapan, dah sarapan belum?
“ Iya ne mau kekelas, sekarang jadwalku piket, tapi kesiangan!, yuk.. bareng kesana!”
Akupun berjalan menuju kelas dan kantin bersama aliana, saat itu kelasnya berada tepat di samping kantin yang kau tuju, padahal aku ke kantin tidak untuk sarapan melainkan agar aku bisa berbincang dengannya, amun dia tak tahu akan semua itu. Akupun duduk di kantin sambil memperhatikan aliana yang sedang piket di kelasnya, selang beberapa menit bel masuk berbunyi siswa – siswipun bergegas memasuki ruang kelas masing-masing. Akupun beranjak dari kantin menuju ruang  Tata Usaha untuk mengerjakan setumpuk pekerjaanku
Selama aliana kelas 7 SMP aku hanya sebatas kenal dan kenal saja, namun aku tidak bisa berbohong atas sedikit perasaanku untuknya, sunguh aku tidak berani mengungkapkan isi hatiku untuknya, karena ku tahu dia masih duduk di bangku kelas 7, tapi aku yakin suatu saat akan ku ungkapkan isi hatiku untuknya. Kurawa waktu akan berikan jawaban…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar