Aku sangat menyayangi Aliana, semua yang kulakukan demi aliana, aku
ngak bisa hidapi tanpa aliana, untuk aliana aku rela ngelakuin apa segalanya,
hanya aliana satu – satunya cewe yang aku puja, danku damba, dia segalanya
bagiku, tiada yang lain di hatiku selain aliana.
Aku akan membuktikan kepada aliana
besarnya cintaku padanya, kan ku berikan untuknya matahari terbit yang sangat
di sukainya. Setiap pagi dia selalu menuju pantai atau bukit hanya untuk
sekedar menikmati matahari terbit, aku sering menjumpainya ketika dia duduk
manis di atas batu di puncak bukit sambil menikmati indahnya matahari terbit.
Jadi aku berjanji padanya bahwa aku kan berikan matahari terbit untuknya, agar
dia tak susuh payah naik tutur bukit ataupun lari ke pantai utnuk menikmatinya.
Akupun menghampiri aliana yang sedang menikmati indahnya matahri
terbit.
“ Beib….boleh aku temenin? Indah juga ya ,menikmati matahari
terbit disini, menurutmu hal apa yang
paling indah untukmu?”
“Iya… sini say… ! kayanya lebih indah lagi kalo kita duduk
berdua menatapnya, bagiku sesuatu yang indah adalah matahari terbit, karena dia
mampu beriku senyuman di setiap pagi, tapi yang paling indah lagi bila aku
menikmatinya bersamamu disini. Tapi sayang sekali dia jauh sekali di sana aku ingin
memilikinya” aliana pun mendekap erat
tangankum, di letakkan kepalanya pada
pundakku, sambil menatap matahri terbit.
“Beiib…… aku sangat
menyayangimu, aku selalu ingin bersamamu, akan kulakukan semua ingimu, aku
berjanji padamu bahwa aku kan berikan mentari terbit itu padamu, aku kan
memburunya dan kan ku berikan padamu, aku janji padamu beiib?’’
“Tapi say…. Aku tahu kau sangat menyayangiku, aku takut
terjadi apa-apa ketika kau membutu matahari terbit itu, cukup kita nikmati
disini saja”
“Iya aku tahu….ini tidak mudah untuk memburu matahari terbit
itu, tapi aku tak rela bila kau harus naik turun bukit, berlari ke pantai hanya
untuk menikmati itu, akan ku bawa matahari terbit itu kerumahmu agar kita bisa
nikmati bersama setiap saat, tanpa harus datang ke tempat ini ataupun kepantai”
akupun menggengam kedua tangan aliana sambil menunjuk pada matahari terbit.
“Tapi say……….”
“Sudah percayalah padaku aku kan bawain pulang matahahari
terbit itu untukmu” akupun mendekap erat tubuh aliana..
“Hati-hati ya say…”alianapu mencium keningku
Dengan semangat cintayang di berika
aliana untukku, akupun mempersiapkan diri untuk memburu matahari terbit yangku
janjikan pada aliana.
Safana ku jelajahi, hutan ku lalui,
lelah batinku tapi tidak untuk jiwaku, jiwaku masih menggebu-gebu untuk mencari
matahari terabit untuk aliana, dalam perjalan pemburuan di tengah hutan aku
menemukan satu buah desa, disini aku bertanya pada seorang warga yang baru
pulang dengan membawa cangkul di pundaknya.
“Permisi pak…. Aku sedang mecari matahari terbit, yang selalu
ku lihat di kaki bukit dan di tepi pantai, apakah bapak tahu di mana itu”
akupun bertanya pada seorang pak tua yang membawa cangkul
“iya saya tahu…., kamu terus berjalan saja ke arah timur di
puncak gunung sembrono , di puncak sana dia selalu keluar. Dengan sedikit kaget
pak tuapun menjawab petanyaan dariku.
“oh… trimakasih pak…. Jadi di atas puncak gunung sembono,
kira – kira berapa hari pak saya bisa sampai di puncak sana”
“Ya sekitar dua hari perjalanan kamu kan sampai di sana,
lebih baik kamu istirahat dulu di rumah bapak, nanti kamu bisa lanjutkan
perjalanan besok pagi”
“Oh.. tidak terimaksih pak saya ngak mau ngerepotin bapak!!!”
akupun menolak ajakan pak tua.
“Sudah ngak apa-apa lagian hari sudah mulai gelap, lebih baik
kau istirahat dulu di rumah bapak tidak jauh dari sini kok!! ” pak tuapun
mencoba mengajak aku untuk menginap
dirumahnya.
Akupun menerima ajakan dari pak tua
itu, dalam pikirku “iaya juga hari mulai gelap sedangkan aku perlu istirahat
setelah seharian berjalan, sampailah aku di rumah pak tua.
“ini rumahnya cukup
untuk sekedar berteduh, iya namamu siapa anak muda”,
“ oh…iya… saya Bayu
pak, Bayu sagarakawani” balasku,
“nama bapak Wasman, pangil aja bapak!! mari masuk kedalam,
bapak sendiri ini, angap daja rumah sendiri”
“Oh… bapak sendirian disini, keluarga bapak pada kemana?”
Dengan kepala tertunduk napakpun
menjawab “ bapak sebatang kara disini, keluarda bapak telah tewas semua saat
gempa bumi”
“maaf pak saya turut berduka”
“sudahlah tidak apa-apa, ayo masuk” .
Akupun masuk kerumah pak tua yang
terbuat dari bilik dan beratapkan helaian daun tebu beralaskan tanah, di
sinilah aku melepas lelah.
Sementara itu di rumah aliana selalu
berdoa dan berdoa agar tidak terjadi apa – apa dengan aku kekasihnya, dia terus
menunggu kedatangannya dengan cemas dan berharap aku mampu membawakan matahari
terbit untuknya.
Aku di rumah pak tua yang sedang duduk lusuh diteras rumah
pak tua sambil melepas lelah pak tua menghampiriku.
“ sebenernya Bayu untuk apa mencari dan memburu metahari
terbit?’’ tanya pak tua dengan penuh heran!!!
“ Semua yang kulakukan untuk aliana kekasihku pak, aku dan
aliana selalu menikmati matahari terbit di atas bukit, atupun di tepi pantai,
aku ingin membawa matahari terbit itu untuk ku persembahkan pad aliana agar tak
usah lagi di naik turun bukit, atu lari kepantai hanya untuk menikmatinya, akan
ku pajangkan matahari terbit itu di samping kamarnya, agar kami berdua dapt
menikmatinya setiap saat, tanpa harus naik turun bukit atau berlari ke tepi
pantai.”
“ saya heran
kenapa kaena cinta setiap orang jadi
nekat seperti ini, ya… bapak doakan semoga kamu berhasil, sudahlah sekarang
bergegaslah ke dalam, besok adalah hari terberatmu” dengan penuh keheranan pak
tuapunmenyuruh aku untuk bergegas untuk tidur.
Pak tuapun masuk kedalam rumah dan
aku mengikuti di belakangnya, aku terbaring di atas ranjang kayu, aku yang
hanya berselimutkan sarung mencoba memejamkan mata sambil menghayalkan aku
pulang dengan matahari terbit untuk aliana.
Ayam milik pak tuapun bersahutan
seakan memberikan pertanda bahwa perang sudah di mulai, aku terbangun dari
henyakku, bergegas ku persiapkan diri untuk menuju gunung sembrono.
Sebelum aku berangkat dari rumah pak
tua itu, aku di beri beberapa alat untuk membantuku memburu matahari terbit,
pak tuapun selempangkan tali padaku, dan dia memberiku sebuah busur beserta
anak panahnya dan yang terakhir adalah sebuah tombak.
“mungkin ini nisa membantumu untuk memburu matahari terbit,
hanya itu yang bisa bapak berikan untukmu mudah – mudahan bisa bermanfaat
untukmu” pak tuapun memberikan segala alat –alat untukku, sambil menepak –
nepak pundakku, phuuhkk..phuuhk..phuuhk.
“trimakasih… pak”akupun memeluk tubuk pak tua yang telah
membantuku.
“”sedahlah… tak perlu bertrimakasih sekarang bergegaslah kau
menuju timur untuk temukan gunung sembrono dan menemukan matahari terbit.
Akupun bergegas pergi dengan
peralatan yang di berikan olah pak tua itu, semangatkupun makin bertambah untuk
memburu matahari terbit, satu hari aku berjalan melewati jurang dan lembah dan
hutan yang lebat, tampa kenal lelah karna aku mempunyai satu semangat yitu
semangat cinta dari aliana, dan akhirnya aku tiba di gunung sembrono, namun
hari mulai gelap yang memaksaku harus mendaki ekstra keras dalam satu malam aku
harus mempu mendaki gunung sembrono, dalam hatiku berkata : Gunung setinggi ini
harus ku daki dalam satu malam” akupun menghela nafas huufffff…..” dengan
semangt cinta aku akan pulang membawa matahari terbit, aliana aku kan pulang
membawanya untukmu.
Dengan semangat cinta akupun mendaki
gunung denganberlari meski gelap dulita terasa terang aku tak peduli dan terus
berlari, karna aku yang sedikit ceroboh, entah mengapa kaki kiriku menginjak
batu yang licin, aku yang aru mendaki sampai tengah gunung, harus rela kembali
jatuh terperosok.
Bukh..bukh…bukh…bukh…bukh…aku
terjatuh, kulihat kaki kiriku berdarah dan patah.. ku coba obati luka di kakiku
dengan semangat cinta yang membara, ku robek bajuku untuk membalut lukaku, ku
tahankan rasa sakit yang teramat sakit saatku jatuh, tapi dengan satu semngat
cinta aku mulai bangkit kembali, ku raih tombak pemberian dari pak tua yang tak
jauh dari tempatku jatuh, untuk membantuku kembali berdiri, entah ada keajaiban
apa kakiku yang sakah satunya patah, tapi aku bisa berdiri, dengan sisa – sisa
semangat yang ku punya akupun mencoba kembali mendaki. “ ahk… pikirku tak
mungkin aku bisa mendaki dengan keadaan kakiku yang patah ini, entah mungkin
karena kekuatan cinta aku bisa kembali mendaki, kekuatan cinta yang teramat
dalam hingga aku mampu untuk melakukan segalanya meski aku tahu aku keadaan ku
yang sedang luluh lantah, kakiku patah, berdarah-darah tapi semangtku masih
memerah bagi darah yang keluar dari tubuhku.
Kini aku kembali mendaki gunung
sembrono dengan ssusah payah tapi aku tak kenal lelah, sebentar lagi aku tiba
di puncak gunung sembrono, dan aku mulai melihat matahari terbit di puncak
gunung sembrono, semangatkupun bertambah membara, karna sesuatu yang aku cari
ada di depan mata, aku yang tak mau kehilangan matahari terbit.
Akan tetapi ketika aku sampai di puncak matahari terbit mulai
menjauh tak mampu aku meraihnya dengan kedua tanganku, aku meloncat – loncat
tapi tetap saja aku tak mampu meraihnya
Akupun kesal ngak kepalang ku
lemparkan tombak yang menjadi tongkat untuk membantukuku berjalan pada matahari
terbit , ku lemparkan tombakku..
whuussss….whusssssss den mengenai matahari terbit, kulihat tombakku menancap di
tuguh matahari terbit, matahari terbit yang biasanya warnanya putih terang kini
berubah warna menjadi orange, itu karena matahari berdarah kerna tombakku.
Metahari terbitpun berputar – putar
mengitari gunung sembrono, dari sekeliling lembah gunung warga desa melihatku
yang sedang berburu matahari terbit, mereka melihat matahari terbit yang
berputar – putar mengitari gunung sembrono.
“Pak….. bapak….bapakkkk…pak…. Bapakkkk, coba lihat ke atas
gunung, matahri berputar – putar ada
pemuda yang mengambil matahari terbit,…. Mendengar teriakan salah satu warga,
semua wargapun keluar rumah menyaksikan aku yang sedang memburu matahari
terbit.
Matahari terbitpun terus mengitari gunung sembrono, dia tak
mampu lagi terbang tinggi, saat itulah ku keluarkan busur panah pemberian pak
tua , ku ikatkan tali yang berselempang di tubuhku pada anak panah dan ujung
tali ku ikatkan pada batang pohon di sampingki, ku arahkan busur panah pada
matahari terbit dank u lepaakan anak panah whuusssss…..whussssss, teoat
mengenai matahari terbit,talipun terikat kuat pada pohon dan terhubung langsung
pada matahari terbit, semakin garang saja matahari terbit dan kini darah yang
keluar dari tubuhnyapun semain banyak kini warnanya orange kekuning- kuningan.
Sementara itu warga yang berada di
lembah gunung melihat takjub… karena matahari terbin kini jadi indah karena
warnanya berubah, yang tadinya putih bercahaya kini berubah menjadi orange
kekuning – kuningan….. “hey… coba lihat itu indah sekali matahari terbit itu
kini berubah menjadi lecih indah, merekapun takjub” dan mereka tak tahu
sebenarnya warna itu adalah warna darah matahari terbit.
Setelah terikat segera ku raih tali
di sampingku yang terikat di batang pohon, ku tarik erat – erat agar matahari
terbit dapat mendekat padaku, sekuat tenaga aku
menariknya agar aku bisa
meraihnya, keringatpun basahi sekujur tubuh, dengan semangat cinta akhirnya aku
bisa meraihnya.
Setelah matahari terbit di tanganku
segera ku lepaskan ikatan tali yang mengikat pada sebatang pohon, ku ikatkan
tali itu pada tubuhku, ku bawa pulang matahari terbit itu dengan cara ku
gendong menuruni bukit, sementara itu setelah matahari ku gendong untuk di bawa
pulang langit berubah menjadi delap gulita karena penerangnya dunia ku bawa
pulang untuk aliana.
Semua penduduk lembahpun panik karena
langit berubah menjadi gelap, karena matahari terbit telah ku bawa.
Meski dengan keadaan kakiku yang
pincang karena patah, aku menuruni gunung tanpa lelah, tak kurasakan sakitnya
kakiku ini karena aku sedang berbahagia karena keinginan untuk alina telah
tercapi, tibalah aku di salah satu desa, dan warga desapun melihat aku yang
membawa matahari terbit, warga desa yang panik karena takut terjadi apa – apa
setelah kejadian matahari terbit berubah warna dan hilang sehingga langit
berubah menjadi delap gulita mencoba mengejarku untuk merebut kembali matahari
terbit dan akan di lepaskannya lagi agar keadaan kembali seperti semula.
Akupun yang telah bersusuh payah
memburu matahari terbit tak mau lagi apa yang telah dia bawa terlepas lagi,
akupun segera mengambil langkah seribu dengan lariku yang sedikit agak pincang,
namun akhirnya aku bisa meloloskan diri dari kejaran warga desa.
Aku berjalan pulang dengan penuh
kegembiraan karena takan ada alagi naik turun gunung atu berlari ke pantai
untuk melihat matahari terbit, sedangkan kini matahari terbit telah aku
dapatkan unutk aliana kekasihku.
Sedangkan di rumah aliana menunggu
dengan penuh kegelisahan karena aku sudah seminggu belum pulang juga….. di
selalu menatap jauh keluar halaman rumahnya, berharap aku datang dengan
selamat… dia terus saja menatap keluar sedangkan aku tak kunjung datang.. saat
aliana meng hadapkan wajahnya kedalam rumah, dia mendengar terikan sayup –
sayup menyebut namanya… aliana….. aliana…. Alina… bebyyyy…bebyyyy ….bebyyy….
terdengar taka sing suara itu, segeralah dia memakingkan wajahnya keluar rumah,
dia melihat aku yang sedang berlari menuju arahnya…
Aliana bergegas menjemputku dengan
berlari… kandaaaaaaa… dengan air mata kebahagiannya dia pun memeluk aku.
“ Ini matahari terbit untukmu, sekarang menjadi jauh lebih
indah, kau lihat bukan corak warnanya” ku berikan matahari terbit itu pada
aliana dank u ikatkan matahari terbit itu pada batang pohon di samping kamar
aliana
“kandaaa…kau hebat sekali” alianapun semakin erat memelukku
“ sekarang tak perlu lagi beebyy naik turun bukit atu lari
kepantai karena kanda sudah bawakan ini untukmu, kini kita bisa nikmati
kapanpun kita mau, beebyy percayakan bahwa kanda bener – bener saying ma
beib….’’ akupun mencium kening aliana
Alinapun hanya bisa tersenyum indah
dan kami berdua menikmati mentari terbit di jendela kamar aliana sambil
berpelukan erat, tak lupa aku bercerita pada aliana bagaimana aku bisa
mendapatkan matahari terbit untuk aliana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar