Minggu, 04 September 2011

Mengenal Dia (Aliana )


                   Sore hari aku menjadi salah satu instruktur ekstrakulikuler dengan beberapa rekanku di salah satu sekolahan, tempatku bekerja, tugasku meliputi menguji fisik calon  siswa – siswi sekolah sekolah menengah pertama (SMP).
                   Ketika sedang bertugas pandanganku tertuju pada salah seorang siswi, dia memakai baju berwaena biru sedang manjalankan hukuman dari salah satu rekanku, diapun terus berhitung 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10 menghitung jatah push-up yang di perintahkan oleh instruktur, aku mendekatinya ketika dia selesai push-up, kepada rekanku aku meminta agar dia melimpahkan pimpinannya kepadaku, dan aku mengambil alih pimpinan.
Akupun mendekati siswi tersebut.
“Sudah cukup push – upnya segera berdiri perintahku untuknya !”
“Makasih kak !” ia menjawab perintahku
Akupun kembali memerintahkan dia untuk merapihkan pakaiannya “kerapihan! Balik kanan grak!” “Siap” jawab dia dengan lantang.
Diapun balik kanan dan merapihkan pakaian yang terpenuhi debu debu, “pukh…pukh…” terdengar oleh telingaku tangnya yangmerapihkan baju.
“Kerapihan selesai!” perintahku padanya, “siap..!” jawanya “balik kanan grak!” perintahku padanya.
                   Diapun membalikan badannya menghadap pandanganku. Tatapanku tertuju pada papan nama yang ada di dadanya, kulihat tulisanya yang kecil membuatku harus teliti membacanya, ternyata dia bernama aliana, nama yang cantik, tentunya secantik orangnya.
“Gimana capek ga?” ujarku untuk mengawali pembicaraan
“Lumayan capek kak!” jawabnya yamh sedikit terengah – engah,”
“Mau di tambah hukumannya” sedikit gurauan untuknya,”
 “Jangan!! Jangan Di tambah Kak!” diapun sedikit kaget akan pertanyaanku,
“Hehee Tenang saja kaka Cuma becanda”
“ Huff…. Dia pun mengelus-elus dadanya “untung saja becanda, kaka ngagetin aja”
“Yaudah sana  istirahat dulu gih.. biar hilang capenya!” dia pun beristirahat.
                   Ketika aliana beristirahat aku menuju ruangan tempat berkumpul para instruktur, aku berkata pada salah satu instruktur.
“Hey brow… da siswi yang bakalan jadi bunga sekolah tuh… cuakep brow, sumpah Gw ga bohong!”
 “Dasar loe sih cewe melulu, bukannya melatih malah Lirik kanan – kiri Cewe, emanganya yang mana se?” dia pun terheran –heran akan siswi yang aku maksud.
“Ne gw kasih tahu tuh ..  yang lagi duduk di tengah – tengah” aku pun menunjukan aliana yang kala itu sedang ber istirahat dengan teman – temannya di samping lapangan.
 “Waduh… selera gw kalah dong sama lho, wah… beneran ne cewe bakalan jadi bunga sekolah?”
“Hits..hits awas loe jangan di ganggu gugat buat gw tuh, Cakepkan?” sedikit mengancam pada rekanku”
 ”Iya deh lagian gw sih dah tua nyarinya ga seumuran gitu, cocoklah buatmu yang masih kelas satu SMA sih…! Emangnya siapa namanya”
“Sipp lah, jadi ngedukung nie? Namanya aliana Cakepkan namanya ?”
“Gw dukung penuh dirimu, cakep juga se namanya.” ”dah akh gw mau ngelatih dulu lihat tuh waktu istirahat selesai”
                   Setelah waktu istirahat selesai aku memerintahkan aliana dan teman – temannya untuk kembali ke lapangan guna melanjutkan kegiatan yaitu; baris – berbaris, akupun melatihnya baris berbaris dari mulai , sekap sempurna, hadap kanan, hadap kiri, lencang kanan, lencang kiri, dan sikap hormat, ketika hormatlah bisa di bilang aku cari kesempatan dalam kesempitan, dengan sengaja aku memegangi tanganya, dan berkata padanya, “sikap hormat kamu salah” kupegang tangnya, sambil meluruskan telapak tanganya yang bengkok saat sikap hormat, berkali-kali aku memeganginya akan tetapi dia tidak menyadarinya, kesekian kalinya kupegangi lagi tangannya dan berkata padnya, “kalau hormat ibu jarinya lurus jangan bengkok!’’ diapun meluruskan ibu jarinya, namun dia belum tersadar bahwa aku sengaja memenganginya.
Terlarut aku dalam kegiatan itu, sampai aku lupa akan waktu, kini tiba saatnya Pembina untuk melatih langsung para peserta dan kamipun para instruktur beranjak dari lapangan, karena pimpinan sepenuhnya di ambil alih olehPembina, aku menuju tempat duduk yang berada di samping lapangan yang sangat rindang, di sinilah aku memperhatikan aliana yang sedang mengikuti latihan langsung oleh Pembina, namun aliana tidak tersadar bahwa aku sedang memperhatikannya dan sedang menatapnya di kejauhan.
Cukup lama mereka dilatih oleh Pembina, kulihat sungai-sungai keci mengalir didahi dan tanganya, tapi semangatnya masih terpancar dan dia tetap mengikuti latihan, sedangkan teman – temanya banyak yang sangat kelelahan.
Akhirnya waktu latihan bersama pembina selesai, saatnya peserta untuk beristirahat dan membuka bekal yang sudah mereka bawa dari rumah, akupun di perintahkan ole Pembina untuk memimpin peserta untuk makan, langsung tanpa basa – basi aku memimpin peserta. Aku menyuruh mereka membuka bekal, setelah itu berdoa sebelum makan, dengan lahapnya mereka menyantap bekal yang telah mereka bawa dari rumah mereka sendiri.
“Perhatian!!” pada saat makan dilarang berisik!yang berisik kaka akan hukum di lapangan  ‘seruan ku pada peserta’ saat itu aku tepat di samping aliana, makan pun dimulai, aliana menawari aku makan “kak… makan” “silahkan” jawabku. Pesertapun sangat khidmat menjalankan aktifitas makan, sangat menikmati bekal yang mereka bawa, begitupumaku yang khidmat menatap aliana yang sedang makan.
Kegiatan makanpun usai kini beranjak pada kegiatan shalat asyar berjamaah, akupun segera memerintahkan pada peserta untuk melakukan shalat asyar, dan aku bergegas menuju mushola untuk menjadi imam sholat.
Setelah kegiatan sholat selanjutnya yaitu apel sore, apel sorepum dimulai pasukan mengikuti kegiatan paling akhir hari ini, tak lupa kami para instrukturpun mengikuti apel sore, saat apel sore berlangsung pandanganku tidak bisa teralih pada aliana, yang berdiri jauh tepat di hadapanku, selalu ku pandangi dia sampai apel sore usai.
Apel sorepun usai kini saatnya pasukan pulang kerumah masing-masing, kulihat begitu deras kucuran keringat diantara dahi dan tangannya, dia pun membersihkan keringatnya dengan handuk yang terselip di pinggangnya sambil berjalan menuju gerbang, dan alianapun masih sibuk dengan handuk yang ada di tanganya untuk menghapus keringatnya, saat aliana berjalan menuju gerbang untuk pulang kerumahnya, tak hentinya aku menatapnya di balik jendela ruang hall sekolah, kulihat ayahnya sudah menunggu di depan gerbang dan siap mengantarnya untuk pulang.
Hilanglah pandangan indahku setelah aliana berlalu pulang, tapi tak apa hari esok aku akan bertemu dengannya kembali, karena dia besok berangkat sekolah sedangkan aku salah satu pekerja Tata Usaha di sekolahnya.
Saat latihanlah kali pertama aku mengenal aliana, sosok yang sedikit pendiam, tapi penuh dengan semangat, aliana, mulai detik ini kau menjadi bagian dari kisahku.

Di pagi hari
Kerinduanku pada parasnya mungkin akan terobati di pagi hari ini, aku yang kehilangan pandangan indah sare kemarin, detik ini akan terobati, ya.. benar mengang benar, kerinduanku terobati setelah semalaman tak hentinya diriku memimpikan dan merindulkannya.
Pagi ini dirinya bersekolah dimana sekolahnya merupakan tempat aku bekerja sebagai stat Tata Usaha, aku menanti kedatangannya di balik jendela ruang hall dengan di temani secanglir teh hangat di pagi yang cerah ini, aku mengawasi setiap siswi yang baru datang kesekolah, namun tak kunjung juga ku dapati dia datang, sendangkan waktu tealah menunjukan tepat pukul 07.30 daipun tak kunjung datang, tiada lelah aku menanti kedatangannya, sampai akhirnya datang jugu seseorang yang ku harapkan, aliana, di lihat di luar gerbang dia turun baru saja diantar ayahnya, perlahan langkahnya memasuki gerbang sekolah akupun tak henti memandanginya, diapun mulai memasuki gerbang ke dua dari sekolahku aku segera berlari menuju gerbang ke dua yang tepat berada di samping ruang guru.
Tepat sekali aku berada di hadapannya, akhirnya bertemulah aku dan saling berhadapan tatapanku tak lepas dari matanya, sedikit senyumpun ku berikan padanya, diapun membalas senyumku. Mulailah aku berkomunikasi dengannya, kuawali dengan sapahan hangat untuknya.
“Selamat pagi!!” Aku yang menyapa dengan penuh keramahan, “gimana kemarin cape ngak latihannya?”
“pagi juga kak”, lumayan sih kak masih ada sisa-sisa pegel ne”?
“ tapi serukan kemaren?” maaf ya… kemaren dah ngehukum kamu!”
“ Seru banget kak…! ,ahk.. ngal apa-apa kak lagian salah aku juga yang kurang di siplin.”
“ Mau kelas ya? Barengan yuk… maka kaka, kaka juga mau ke kantin mau sarapan, dah sarapan belum?
“ Iya ne mau kekelas, sekarang jadwalku piket, tapi kesiangan!, yuk.. bareng kesana!”
Akupun berjalan menuju kelas dan kantin bersama aliana, saat itu kelasnya berada tepat di samping kantin yang kau tuju, padahal aku ke kantin tidak untuk sarapan melainkan agar aku bisa berbincang dengannya, amun dia tak tahu akan semua itu. Akupun duduk di kantin sambil memperhatikan aliana yang sedang piket di kelasnya, selang beberapa menit bel masuk berbunyi siswa – siswipun bergegas memasuki ruang kelas masing-masing. Akupun beranjak dari kantin menuju ruang  Tata Usaha untuk mengerjakan setumpuk pekerjaanku
Selama aliana kelas 7 SMP aku hanya sebatas kenal dan kenal saja, namun aku tidak bisa berbohong atas sedikit perasaanku untuknya, sunguh aku tidak berani mengungkapkan isi hatiku untuknya, karena ku tahu dia masih duduk di bangku kelas 7, tapi aku yakin suatu saat akan ku ungkapkan isi hatiku untuknya. Kurawa waktu akan berikan jawaban…


Mimpi Datas Mimpi


 
Begini ceritanya! Aku sendiri tidak tahu  apakah ini mimpi atau nyata,  di bilang mimpi memang benar aku sedang bermimpi, tapi suatu mimpiku tidaklah seperti mimpi, cona kau bayangkan! Ketika kau di hadapkan dengan suatu mimpi dan ketika kau bangun ternyata kalian masih dalam keadaan mimpi, apa yang terjadi? Berkali kali aku terbangun dan tenyata aku masih berada dalam alam bawah sadarku, sungguh aku tak peduli.
Sudahlah aku tak peduli lagi tentang mimpi atau tidak, namun kata mimpi sekilas memberikan inspirasi agar aku menuliskan tentang mimpi, ku coba mengambil sebatang pena dan beberapa carik kertas untuk memulai menulis sebuah cerita mimpi aku mencari tempat yang kurasa sangat nyaman untuk menulis, kamar… ya memang benar kurasakan di kamarku rasanya tempat yang nyaman untuk mulai menulis, ku siapkan secangkir the hangat untuk memulai aku menulis, kuawali tulisanku dengan kata “mimpi” belum sempat aku menulis kata yang lainnya tiba-tiba merasa aneh! Blak…blak… mataku terbuka yang tadinya aku sedang duduk di meja kamarku, tapi sekarang setelah mataku terbuka, ternyata aku sedang berbaring di tempat tidurku dan aku baru saja bermimpi, “waduh… perasaan tadi aku sedang menulis sebuah cerita” gumam hatiku yang terheran.
Akupun beranjak dari tempat tidurku dan mencoba mencari sebuah pena dan beberapa lembar kertas, untuk memulai membuat cerita yang bertajuk nyata, pena dan kertas yang sama persis ketika aku bermimpi untuk di gunakan menulis cerita, akupun beramjak dari tempat tiduku, dan duduk di meja kerja kamarku, aku mengawali karanganku dengan kata “nyata”, untuk kedua kalinya aku terbangun dari mimpiku setelah menulis kata nyata,dan aku melihat aku merasakan bahwa aku terbaring di tempat tidurku. huff … kuhirup udara dalam – dalam untuk menenangkanku yang kebingungan derngan apa yang terjadi pada diriku, dalam bangunku aku tak berani lagi menuliskan kata “mimpi” dan “nyata”.
Akupun  beranjak dari tempat tidurku, “mencoba sesuatu yang baru” lari dari kata mimpi dan nyata aku mencoba mencari sesuati yang tidak berkaitan dengan tulisan mimpi dan nyata, pandanganku tersudut pada bola basket yang berada di sudut ruang kamarku, terpikir olehku mungkin dengan bermain basket aku tidak lagi sedang bermimpi, kuambil bola basket dan menuju lapangan basket yang tidak jauh dari rumahku, kulihat ada beberapa rekanku yang sedang asyik bermain basket, bergabunglah aku dengan mereka, kamipun mulai bermain tanpa mengenal lelah teamku beranggotakan aku, bram, vidi, fikhri dan fahmi,
 Permainnanpu dimulai saling serang antara teamku dan teamlawan terjadi sangat sengit, ketika aku sedang menyerang aku mendapatkan kesempatan untuk shooting 3 point, tanpa pikir panjang aku langsung mencoba shooting, sangat beruntung sekali tembakanku sangat jitu, temakSSSSSanku langsung merobek jarring lawan, akupun kembali bertahan setelah menyerang dalam bertahan aku menempati posisi center dalam teamku dan tugasku untuk mengatur penyerangan dan juga pertahanan, lawanpun cukup tangguh untuk bisa menerobos pada jantung pertahananku, di depanku ada seorang lawan yang mencoba meminta bola umpan pada temannya, tepat di hadapanku dia berdiri temannyapun tanpa pikir panjang mengumpankan bola padanya.
Ketika bola tingal di tangkap saja oleh dirinya, namun ternyata salah pengertian antara dia dan temannya, ketika bola sudah di umpan, lawan yang berada tepatsi hadapanku entah kenapa dia menghindar! Blakk…blak bola pun ersarang di wajahku, akupun terkapar jatuh dan pingsan.
“yu…yu..bayu” seru temanku mencoba menyadarkan aku yang pingsan, cukup lama mereka mencoba menadarkanku, akan tetapi aku tak kunjung sadar. Tak lama kemudian akupun tersadar, ha..”aku kaget”, tenyata aku tidak berada di lapangan, aku melihat ibuku yang sedang memukul – mukul pipiku mencoba membangunkanku sari tidurku.
“Plak…plak..plak..” yu…yu… bangun sudah siang!”
“hah… kok aku disini si bu…. ? tanyaku pada ibu dangan sedikit terheran.
“sudah buruan bangun sudah siang!” suara ibukupun makin menekan.
“ sebentar seharusnya aku ada di lapangan, aku pingsan gara-gara wajahku terlempar bola kok aku di sini sib u..?
“ husss ngomong apa?dari tadi kamu tidur terus , kamu barusan mimpi< udah buruan bangun sudah siang tuh..! “ perintah ibuku.
Sungguh aku terheran dengan kejadian yang kualami, aku bergegas mandi namun dalam keadaa mandi mungkin saja aku masih berada dalam alam mimpiku, lama sekali aku berada di kamar mandi sambil memikirkan, “apakah aku akan tebangun lagi dari mimpiku setelah aku mandi? ”sedikit pertanyaan dalam hatiku untuk diriku’’
Aku menunggu kejadian aku terbangun lagi dari mimpiku, dalambenakku berkata “wah…ini pasti kenyataan dan aku tidak berada dalam alam mimpi”
Akhirnya selesai juga mandi pafiku yang sedikit kesiangan. Akupun duduk di teras depan rumahku sambil menik mati secangkir the hangat, entah kenapa kejenuhan manghampiriku, jenuh sekali yang kurasakan kala itu, main…main…dan main yang ada di otakku untuk menghilangkan kejenuhan, akupun bergegas mengeluarkan motor kesayanganku untuk bermain ke luar rumah menghilangkan kejenuhan, akupun pamitan pada ibuku meminta ijin untuk keluar rumah, di depan pintu ku keraskan suara “bu…aku keluar dulu mau maen” segeralah aku tancap gas dengan kecepatan perlahan, terik sekali matahari hari ini, tapi aku menikmati suasana hari ini, ketika aku sedang santai mengendarai motor, tiba-tiba da yang menyalip diriku diapun mencoa membangkitkan amarahku dengan memain-mainkangas motornya, ngenggggg…..ngenggggg…ngenggg aku pun membalasnya dengan suara knalpot motorku yang tidak kalah berisik ngenggg…ngengggg…ngeng…. Diapun menghampiriku!
‘‘ Hey cupu, naik motor culun banget si lho!! Berani ngak balap ma gw?
“ngak salah motor butut gitu aja mau balaoan ma motor gw?” jawabku padanya
“ Udah dweh jangan banyak bacot lho!!” jawab dia yang penuh sengan emosi.
“Oke, kita tunjukan siapa yang menang!”
Aku dan dia tidak peduli meskipun keadaan jalan raya kali itu sangatkah ramai, tetapi tidak menyurutkan sifat keduanya yang “bragajulan”
Kami siap pada posisi dan balappun si mulai…
Ngengnggggggg……..menambah kebisingan jalan raya, salaing kejar-kejaranpun terjadi, pertama aku ketinggalan jauh oleh dirinya,tetapi aku mampu mengejarnya, akupun salip kanan – salip kiri seakan tak peduli apapun yang akan terjadi oleh ulahku. Akupun memimpin di depan, samngat angga aku bisa memimpin balap kali ini, tepat di depanku ada belokan kea rah kanan, entah kenapa motorkupun tak bisa ku kendalikan.
Dar… motorku terhantam pada trotoar jalan tubuhku terpental kepalaku menghantam badan jalan, ternyata nasib buruk menimpaku, tuhan tak memberi ampun lagi padaku, seketika akupun tewas!! Naas sekali nasib diriku.
Sakit sekali yang kurasakan ketika nyawaku tercabut, ketika rasa sakit hilang ternyata aku tidak mati, aku baru saja terangun dari mimpiku lagi, blak..blak… mataku terbuka aku melihat motorku ada di depanku dengan keadaan yang masih utuh, dan aku tidak erada di jalan raya, akan tetapi aku berada di gerasi rumahku, aku tertidur di gerasi rumah, untuk yang kesekian kalianya kau terbangun dari mimpiku dan tenyata bangun tidurku masih dalam keadaan mimpi.
Akupun beranjak dari gerasi menuju kamarku, ku yakinkan hati bawa kali ini aku tidak berada dalam keadaan mimpi, ternyata benar ini bukan mimpi, agar memastikan ini bukan mimpi, aku menyuruh temanku main kerumahku, ketika dia telah datang, aku langsung bertanya padamya,
“ Sob… sebenarnya ini dunia nyata apa bukan sih?”
“ ya nyatalah, emangnya ada apa?”
“ sumpah sob… gw ngalamin kejadian yang dangat aneh”
“ emangnya aneh gimana?”
“ Gini sob… berkali – kali aku aku bermimpi, ketika ku bangun dari mimpiku, ternyata bangunku masih dalam keadaan mimpi, gw takut!! Sumpah gw takut tadi barusan aku baru terbangun dari mimpiku gw takut kalau kali ini gw masih berada dalam alam mimpi sob..”
“ ini dunia nyata, brwo,,, mau bukti sini gw gamparin biar lho sadar ahwa ini dunianyata, mau ngak?”
“ wah… cemerlang jug aide lho… sob…!!”
“ Gila lho yea, mau aja di gamparin ma gw, beneran nihh?!
“ Beneran…. Biar gw tahu bahwa kali ini adalah nyata, nie pipi gw!” akupun menyodorkan pipiku untuk di gampar
Plak…plak…plak… tangan temankupun menggampar pipi kiri kananku,
“aduhghg… sakit bego!!” ringkikanku pada temanku
“ udah percaya ngak, ahwa ini dunia nyata?”
“ sumpah gw belum percaya” tonjok aja mata gw biar pingsan gih!!!” perintahku pada temanku!”
“ makin gila aja sih lho… dah tahu tadikan lho kesakitan mau pake tonjok lagi, lho gila”
“bodo amat lho mau bilang gila apa kek, yang penting lho tonjok gw mpe pingsan, sumpah gw pernah mimpi pingsan dan ter bangun masih dalam keadaan mimpi, kali ini gw dalam keadaan sadar, inginkan lho tonjok gw mpe pingsan”
“ dasar orang gila!! Menyiksa diri sendiri ajam bener nih? Diapun meyakinkan aku.
“ Bener gw serius, nanti gw merem, lho harus tonjok gw sampe pingsan”
“ yaudah merem!!” perintah temanku untukku

Diapun mengambil sikap untuk menonjokku, plak…plak… akupun langsung tersungkur pingsan, dan setelah itu aku tak tahu lagi apa yang terjadi padaku, setelah aku bangun aku tak tahu apakah masih dalam keadaan mimpi, ataukah keadanku sudah berjalan seperti biasanya (nyata). Mau mimpi ataupun nyata aku tidak peduli memikirkannya.

MATAHARI TERBIT UNTUK ALIANA


Aku sangat menyayangi  Aliana, semua yang kulakukan demi aliana, aku ngak bisa hidapi tanpa aliana, untuk aliana aku rela ngelakuin apa segalanya, hanya aliana satu – satunya cewe yang aku puja, danku damba, dia segalanya bagiku, tiada yang lain di hatiku selain aliana.
Aku akan membuktikan kepada aliana besarnya cintaku padanya, kan ku berikan untuknya matahari terbit yang sangat di sukainya. Setiap pagi dia selalu menuju pantai atau bukit hanya untuk sekedar menikmati matahari terbit, aku sering menjumpainya ketika dia duduk manis di atas batu di puncak bukit sambil menikmati indahnya matahari terbit. Jadi aku berjanji padanya bahwa aku kan berikan matahari terbit untuknya, agar dia tak susuh payah naik tutur bukit ataupun lari ke pantai utnuk menikmatinya.
Akupun menghampiri aliana  yang sedang menikmati indahnya matahri terbit.
“ Beib….boleh aku temenin? Indah juga ya ,menikmati matahari terbit disini, menurutmu hal  apa yang paling indah untukmu?”
“Iya… sini say… ! kayanya lebih indah lagi kalo kita duduk berdua menatapnya, bagiku sesuatu yang indah adalah matahari terbit, karena dia mampu beriku senyuman di setiap pagi, tapi yang paling indah lagi bila aku menikmatinya bersamamu disini. Tapi sayang sekali  dia jauh sekali di sana aku ingin memilikinya” aliana pun  mendekap erat tangankum, di letakkan  kepalanya pada pundakku, sambil menatap matahri terbit.

“Beiib……  aku sangat menyayangimu, aku selalu ingin bersamamu, akan kulakukan semua ingimu, aku berjanji padamu bahwa aku kan berikan mentari terbit itu padamu, aku kan memburunya dan kan ku berikan padamu, aku janji padamu beiib?’’ 

“Tapi say…. Aku tahu kau sangat menyayangiku, aku takut terjadi apa-apa ketika kau membutu matahari terbit itu, cukup kita nikmati disini saja”

“Iya aku tahu….ini tidak mudah untuk memburu matahari terbit itu, tapi aku tak rela bila kau harus naik turun bukit, berlari ke pantai hanya untuk menikmati itu, akan ku bawa matahari terbit itu kerumahmu agar kita bisa nikmati bersama setiap saat, tanpa harus datang ke tempat ini ataupun kepantai” akupun menggengam kedua tangan aliana sambil menunjuk pada matahari terbit.

“Tapi say……….”
“Sudah percayalah padaku aku kan bawain pulang matahahari terbit itu untukmu” akupun mendekap erat tubuh aliana..

“Hati-hati ya say…”alianapu mencium keningku

Dengan semangat cintayang di berika aliana untukku, akupun mempersiapkan diri untuk memburu matahari terbit yangku janjikan pada aliana.
Safana ku jelajahi, hutan ku lalui, lelah batinku tapi tidak untuk jiwaku, jiwaku masih menggebu-gebu untuk mencari matahari terabit untuk aliana, dalam perjalan pemburuan di tengah hutan aku menemukan satu buah desa, disini aku bertanya pada seorang warga yang baru pulang dengan membawa cangkul di pundaknya.

“Permisi pak…. Aku sedang mecari matahari terbit, yang selalu ku lihat di kaki bukit dan di tepi pantai, apakah bapak tahu di mana itu” akupun bertanya pada seorang pak tua yang membawa cangkul
“iya saya tahu…., kamu terus berjalan saja ke arah timur di puncak gunung sembrono , di puncak sana dia selalu keluar. Dengan sedikit kaget pak tuapun menjawab petanyaan dariku.
“oh… trimakasih pak…. Jadi di atas puncak gunung sembono, kira – kira berapa hari pak saya bisa sampai di puncak sana”
“Ya sekitar dua hari perjalanan kamu kan sampai di sana, lebih baik kamu istirahat dulu di rumah bapak, nanti kamu bisa lanjutkan perjalanan besok pagi”
“Oh.. tidak terimaksih pak saya ngak mau ngerepotin bapak!!!” akupun menolak ajakan pak tua.
“Sudah ngak apa-apa lagian hari sudah mulai gelap, lebih baik kau istirahat dulu di rumah bapak tidak jauh dari sini kok!! ” pak tuapun mencoba  mengajak aku untuk menginap dirumahnya.

Akupun menerima ajakan dari pak tua itu, dalam pikirku “iaya juga hari mulai gelap sedangkan aku perlu istirahat setelah seharian berjalan, sampailah aku di rumah pak tua.
 “ini rumahnya cukup untuk sekedar berteduh, iya namamu siapa anak muda”,
 “ oh…iya… saya Bayu pak, Bayu sagarakawani” balasku,
“nama bapak Wasman, pangil aja bapak!! mari masuk kedalam, bapak sendiri ini, angap daja rumah sendiri”
“Oh… bapak sendirian disini, keluarga bapak pada kemana?”
Dengan kepala tertunduk napakpun menjawab “ bapak sebatang kara disini, keluarda bapak telah tewas semua saat gempa bumi”
“maaf pak saya turut berduka”
“sudahlah tidak apa-apa, ayo masuk”  .
Akupun masuk kerumah pak tua yang terbuat dari bilik dan beratapkan helaian daun tebu beralaskan tanah, di sinilah aku melepas lelah.
Sementara itu di rumah aliana selalu berdoa dan berdoa agar tidak terjadi apa – apa dengan  aku kekasihnya, dia terus menunggu kedatangannya dengan cemas dan berharap aku mampu membawakan matahari terbit untuknya.
Aku di rumah pak tua yang sedang duduk lusuh diteras rumah pak tua sambil melepas lelah pak tua menghampiriku.
“ sebenernya Bayu untuk apa mencari dan memburu metahari terbit?’’ tanya pak tua dengan penuh heran!!!
“ Semua yang kulakukan untuk aliana kekasihku pak, aku dan aliana selalu menikmati matahari terbit di atas bukit, atupun di tepi pantai, aku ingin membawa matahari terbit itu untuk ku persembahkan pad aliana agar tak usah lagi di naik turun bukit, atu lari kepantai hanya untuk menikmatinya, akan ku pajangkan matahari terbit itu di samping kamarnya, agar kami berdua dapt menikmatinya setiap saat, tanpa harus naik turun bukit atau berlari ke tepi pantai.”
“   saya heran kenapa  kaena cinta setiap orang jadi nekat seperti ini, ya… bapak doakan semoga kamu berhasil, sudahlah sekarang bergegaslah ke dalam, besok adalah hari terberatmu” dengan penuh keheranan pak tuapunmenyuruh aku untuk bergegas untuk tidur.
Pak tuapun masuk kedalam rumah dan aku mengikuti di belakangnya, aku terbaring di atas ranjang kayu, aku yang hanya berselimutkan sarung mencoba memejamkan mata sambil menghayalkan aku pulang dengan matahari terbit untuk aliana.
Ayam milik pak tuapun bersahutan seakan memberikan pertanda bahwa perang sudah di mulai, aku terbangun dari henyakku, bergegas ku persiapkan diri untuk menuju gunung sembrono.
Sebelum aku berangkat dari rumah pak tua itu, aku di beri beberapa alat untuk membantuku memburu matahari terbit, pak tuapun selempangkan tali padaku, dan dia memberiku sebuah busur beserta anak panahnya dan yang terakhir adalah sebuah tombak.
“mungkin ini nisa membantumu untuk memburu matahari terbit, hanya itu yang bisa bapak berikan untukmu mudah – mudahan bisa bermanfaat untukmu” pak tuapun memberikan segala alat –alat untukku, sambil menepak – nepak pundakku, phuuhkk..phuuhk..phuuhk.
“trimakasih… pak”akupun memeluk tubuk pak tua yang telah membantuku.
“”sedahlah… tak perlu bertrimakasih sekarang bergegaslah kau menuju timur untuk temukan gunung sembrono dan menemukan matahari terbit.
Akupun bergegas pergi dengan peralatan yang di berikan olah pak tua itu, semangatkupun makin bertambah untuk memburu matahari terbit, satu hari aku berjalan melewati jurang dan lembah dan hutan yang lebat, tampa kenal lelah karna aku mempunyai satu semangat yitu semangat cinta dari aliana, dan akhirnya aku tiba di gunung sembrono, namun hari mulai gelap yang memaksaku harus mendaki ekstra keras dalam satu malam aku harus mempu mendaki gunung sembrono, dalam hatiku berkata : Gunung setinggi ini harus ku daki dalam satu malam” akupun menghela nafas huufffff…..” dengan semangt cinta aku akan pulang membawa matahari terbit, aliana aku kan pulang membawanya untukmu.
Dengan semangat cinta akupun mendaki gunung denganberlari meski gelap dulita terasa terang aku tak peduli dan terus berlari, karna aku yang sedikit ceroboh, entah mengapa kaki kiriku menginjak batu yang licin, aku yang aru mendaki sampai tengah gunung, harus rela kembali jatuh terperosok.
Bukh..bukh…bukh…bukh…bukh…aku terjatuh, kulihat kaki kiriku berdarah dan patah.. ku coba obati luka di kakiku dengan semangat cinta yang membara, ku robek bajuku untuk membalut lukaku, ku tahankan rasa sakit yang teramat sakit saatku jatuh, tapi dengan satu semngat cinta aku mulai bangkit kembali, ku raih tombak pemberian dari pak tua yang tak jauh dari tempatku jatuh, untuk membantuku kembali berdiri, entah ada keajaiban apa kakiku yang sakah satunya patah, tapi aku bisa berdiri, dengan sisa – sisa semangat yang ku punya akupun mencoba kembali mendaki. “ ahk… pikirku tak mungkin aku bisa mendaki dengan keadaan kakiku yang patah ini, entah mungkin karena kekuatan cinta aku bisa kembali mendaki, kekuatan cinta yang teramat dalam hingga aku mampu untuk melakukan segalanya meski aku tahu aku keadaan ku yang sedang luluh lantah, kakiku patah, berdarah-darah tapi semangtku masih memerah bagi darah yang keluar dari tubuhku.
Kini aku kembali mendaki gunung sembrono dengan ssusah payah tapi aku tak kenal lelah, sebentar lagi aku tiba di puncak gunung sembrono, dan aku mulai melihat matahari terbit di puncak gunung sembrono, semangatkupun bertambah membara, karna sesuatu yang aku cari ada di depan mata, aku yang tak mau kehilangan matahari terbit.
Akan tetapi ketika aku sampai di puncak matahari terbit mulai menjauh tak mampu aku meraihnya dengan kedua tanganku, aku meloncat – loncat tapi tetap saja aku tak mampu meraihnya
Akupun kesal ngak kepalang ku lemparkan tombak yang menjadi tongkat untuk membantukuku berjalan pada matahari terbit  , ku lemparkan tombakku.. whuussss….whusssssss den mengenai matahari terbit, kulihat tombakku menancap di tuguh matahari terbit, matahari terbit yang biasanya warnanya putih terang kini berubah warna menjadi orange, itu karena matahari berdarah kerna tombakku.
Metahari terbitpun berputar – putar mengitari gunung sembrono, dari sekeliling lembah gunung warga desa melihatku yang sedang berburu matahari terbit, mereka melihat matahari terbit yang berputar – putar mengitari gunung sembrono.
“Pak….. bapak….bapakkkk…pak…. Bapakkkk, coba lihat ke atas gunung, matahri berputar – putar  ada pemuda yang mengambil matahari terbit,…. Mendengar teriakan salah satu warga, semua wargapun keluar rumah menyaksikan aku yang sedang memburu matahari terbit.
Matahari terbitpun  terus mengitari gunung sembrono, dia tak mampu lagi terbang tinggi, saat itulah ku keluarkan busur panah pemberian pak tua , ku ikatkan tali yang berselempang di tubuhku pada anak panah dan ujung tali ku ikatkan pada batang pohon di sampingki, ku arahkan busur panah pada matahari terbit dank u lepaakan anak panah whuusssss…..whussssss, teoat mengenai matahari terbit,talipun terikat kuat pada pohon dan terhubung langsung pada matahari terbit, semakin garang saja matahari terbit dan kini darah yang keluar dari tubuhnyapun semain banyak kini warnanya orange kekuning- kuningan.
Sementara itu warga yang berada di lembah gunung melihat takjub… karena matahari terbin kini jadi indah karena warnanya berubah, yang tadinya putih bercahaya kini berubah menjadi orange kekuning – kuningan….. “hey… coba lihat itu indah sekali matahari terbit itu kini berubah menjadi lecih indah, merekapun takjub” dan mereka tak tahu sebenarnya warna itu adalah warna darah matahari terbit.
Setelah terikat segera ku raih tali di sampingku yang terikat di batang pohon, ku tarik erat – erat agar matahari terbit dapat mendekat padaku, sekuat tenaga aku  menariknya  agar aku bisa meraihnya, keringatpun basahi sekujur tubuh, dengan semangat cinta akhirnya aku bisa meraihnya.
Setelah matahari terbit di tanganku segera ku lepaskan ikatan tali yang mengikat pada sebatang pohon, ku ikatkan tali itu pada tubuhku, ku bawa pulang matahari terbit itu dengan cara ku gendong menuruni bukit, sementara itu setelah matahari ku gendong untuk di bawa pulang langit berubah menjadi delap gulita karena penerangnya dunia ku bawa pulang untuk aliana.   
Semua penduduk lembahpun panik karena langit berubah menjadi gelap, karena matahari terbit telah ku bawa.
Meski dengan keadaan kakiku yang pincang karena patah, aku menuruni gunung tanpa lelah, tak kurasakan sakitnya kakiku ini karena aku sedang berbahagia karena keinginan untuk alina telah tercapi, tibalah aku di salah satu desa, dan warga desapun melihat aku yang membawa matahari terbit, warga desa yang panik karena takut terjadi apa – apa setelah kejadian matahari terbit berubah warna dan hilang sehingga langit berubah menjadi delap gulita mencoba mengejarku untuk merebut kembali matahari terbit dan akan di lepaskannya lagi agar keadaan kembali seperti semula.
Akupun yang telah bersusuh payah memburu matahari terbit tak mau lagi apa yang telah dia bawa terlepas lagi, akupun segera mengambil langkah seribu dengan lariku yang sedikit agak pincang, namun akhirnya aku bisa meloloskan diri dari kejaran warga desa.
Aku berjalan pulang dengan penuh kegembiraan karena takan ada alagi naik turun gunung atu berlari ke pantai untuk melihat matahari terbit, sedangkan kini matahari terbit telah aku dapatkan unutk aliana kekasihku.
Sedangkan di rumah aliana menunggu dengan penuh kegelisahan karena aku sudah seminggu belum pulang juga….. di selalu menatap jauh keluar halaman rumahnya, berharap aku datang dengan selamat… dia terus saja menatap keluar sedangkan aku tak kunjung datang.. saat aliana meng hadapkan wajahnya kedalam rumah, dia mendengar terikan sayup – sayup menyebut namanya… aliana….. aliana…. Alina… bebyyyy…bebyyyy ….bebyyy…. terdengar taka sing suara itu, segeralah dia memakingkan wajahnya keluar rumah, dia melihat aku yang sedang berlari menuju arahnya…
Aliana bergegas menjemputku dengan berlari… kandaaaaaaa… dengan air mata kebahagiannya dia pun memeluk aku.
“ Ini matahari terbit untukmu, sekarang menjadi jauh lebih indah, kau lihat bukan corak warnanya” ku berikan matahari terbit itu pada aliana dank u ikatkan matahari terbit itu pada batang pohon di samping kamar aliana
“kandaaa…kau hebat sekali” alianapun semakin erat memelukku
“ sekarang tak perlu lagi beebyy naik turun bukit atu lari kepantai karena kanda sudah bawakan ini untukmu, kini kita bisa nikmati kapanpun kita mau, beebyy percayakan bahwa kanda bener – bener saying ma beib….’’ akupun mencium kening aliana
Alinapun hanya bisa tersenyum indah dan kami berdua menikmati mentari terbit di jendela kamar aliana sambil berpelukan erat, tak lupa aku bercerita pada aliana bagaimana aku bisa mendapatkan matahari terbit untuk aliana.