Sore hari aku menjadi salah
satu instruktur ekstrakulikuler dengan beberapa rekanku di salah satu sekolahan,
tempatku bekerja, tugasku meliputi menguji fisik calon siswa – siswi sekolah sekolah menengah
pertama (SMP).
Ketika sedang bertugas
pandanganku tertuju pada salah seorang siswi, dia memakai baju berwaena biru
sedang manjalankan hukuman dari salah satu rekanku, diapun terus berhitung
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10 menghitung jatah push-up yang di perintahkan oleh instruktur,
aku mendekatinya ketika dia selesai push-up, kepada rekanku aku meminta agar
dia melimpahkan pimpinannya kepadaku, dan aku mengambil alih pimpinan.
Akupun
mendekati siswi tersebut.
“Sudah
cukup push – upnya segera berdiri perintahku untuknya !”
“Makasih
kak !” ia menjawab perintahku
Akupun
kembali memerintahkan dia untuk merapihkan pakaiannya “kerapihan! Balik kanan
grak!” “Siap” jawab dia dengan lantang.
Diapun
balik kanan dan merapihkan pakaian yang terpenuhi debu debu, “pukh…pukh…”
terdengar oleh telingaku tangnya yangmerapihkan baju.
“Kerapihan
selesai!” perintahku padanya, “siap..!” jawanya “balik kanan grak!” perintahku
padanya.
Diapun membalikan badannya
menghadap pandanganku. Tatapanku tertuju pada papan nama yang ada di dadanya, kulihat
tulisanya yang kecil membuatku harus teliti membacanya, ternyata dia bernama
aliana, nama yang cantik, tentunya secantik orangnya.
“Gimana
capek ga?” ujarku untuk mengawali pembicaraan
“Lumayan
capek kak!” jawabnya yamh sedikit terengah – engah,”
“Mau
di tambah hukumannya” sedikit gurauan untuknya,”
“Jangan!! Jangan Di tambah Kak!” diapun
sedikit kaget akan pertanyaanku,
“Hehee
Tenang saja kaka Cuma becanda”
“ Huff….
Dia pun mengelus-elus dadanya “untung saja becanda, kaka ngagetin aja”
“Yaudah
sana istirahat dulu gih.. biar hilang
capenya!” dia pun beristirahat.
Ketika aliana beristirahat
aku menuju ruangan tempat berkumpul para instruktur, aku berkata pada salah
satu instruktur.
“Hey
brow… da siswi yang bakalan jadi bunga sekolah tuh… cuakep brow, sumpah Gw ga
bohong!”
“Dasar loe sih cewe melulu, bukannya melatih
malah Lirik kanan – kiri Cewe, emanganya yang mana se?” dia pun terheran –heran
akan siswi yang aku maksud.
“Ne
gw kasih tahu tuh .. yang lagi duduk di
tengah – tengah” aku pun menunjukan aliana yang kala itu sedang ber istirahat
dengan teman – temannya di samping lapangan.
“Waduh… selera gw kalah dong sama lho, wah…
beneran ne cewe bakalan jadi bunga sekolah?”
“Hits..hits
awas loe jangan di ganggu gugat buat gw tuh, Cakepkan?” sedikit mengancam pada
rekanku”
”Iya deh lagian gw sih dah tua nyarinya ga
seumuran gitu, cocoklah buatmu yang masih kelas satu SMA sih…! Emangnya siapa
namanya”
“Sipp
lah, jadi ngedukung nie? Namanya aliana Cakepkan namanya ?”
“Gw
dukung penuh dirimu, cakep juga se namanya.” ”dah akh gw mau ngelatih dulu
lihat tuh waktu istirahat selesai”
Setelah waktu istirahat
selesai aku memerintahkan aliana dan teman – temannya untuk kembali ke lapangan
guna melanjutkan kegiatan yaitu; baris – berbaris, akupun melatihnya baris
berbaris dari mulai , sekap sempurna, hadap kanan, hadap kiri, lencang kanan,
lencang kiri, dan sikap hormat, ketika hormatlah bisa di bilang aku cari
kesempatan dalam kesempitan, dengan sengaja aku memegangi tanganya, dan berkata
padanya, “sikap hormat kamu salah” kupegang tangnya, sambil meluruskan telapak
tanganya yang bengkok saat sikap hormat, berkali-kali aku memeganginya akan
tetapi dia tidak menyadarinya, kesekian kalinya kupegangi lagi tangannya dan
berkata padnya, “kalau hormat ibu jarinya lurus jangan bengkok!’’ diapun
meluruskan ibu jarinya, namun dia belum tersadar bahwa aku sengaja memenganginya.
Terlarut
aku dalam kegiatan itu, sampai aku lupa akan waktu, kini tiba saatnya Pembina
untuk melatih langsung para peserta dan kamipun para instruktur beranjak dari
lapangan, karena pimpinan sepenuhnya di ambil alih olehPembina, aku menuju
tempat duduk yang berada di samping lapangan yang sangat rindang, di sinilah
aku memperhatikan aliana yang sedang mengikuti latihan langsung oleh Pembina,
namun aliana tidak tersadar bahwa aku sedang memperhatikannya dan sedang menatapnya
di kejauhan.
Cukup
lama mereka dilatih oleh Pembina, kulihat sungai-sungai keci mengalir didahi
dan tanganya, tapi semangatnya masih terpancar dan dia tetap mengikuti latihan,
sedangkan teman – temanya banyak yang sangat kelelahan.
Akhirnya
waktu latihan bersama pembina selesai, saatnya peserta untuk beristirahat dan
membuka bekal yang sudah mereka bawa dari rumah, akupun di perintahkan ole
Pembina untuk memimpin peserta untuk makan, langsung tanpa basa – basi aku
memimpin peserta. Aku menyuruh mereka membuka bekal, setelah itu berdoa sebelum
makan, dengan lahapnya mereka menyantap bekal yang telah mereka bawa dari rumah
mereka sendiri.
“Perhatian!!”
pada saat makan dilarang berisik!yang berisik kaka akan hukum di lapangan ‘seruan ku pada peserta’ saat itu aku tepat
di samping aliana, makan pun dimulai, aliana menawari aku makan “kak… makan”
“silahkan” jawabku. Pesertapun sangat khidmat menjalankan aktifitas makan,
sangat menikmati bekal yang mereka bawa, begitupumaku yang khidmat menatap
aliana yang sedang makan.
Kegiatan
makanpun usai kini beranjak pada kegiatan shalat asyar berjamaah, akupun segera
memerintahkan pada peserta untuk melakukan shalat asyar, dan aku bergegas
menuju mushola untuk menjadi imam sholat.
Setelah
kegiatan sholat selanjutnya yaitu apel sore, apel sorepum dimulai pasukan
mengikuti kegiatan paling akhir hari ini, tak lupa kami para instrukturpun
mengikuti apel sore, saat apel sore berlangsung pandanganku tidak bisa teralih
pada aliana, yang berdiri jauh tepat di hadapanku, selalu ku pandangi dia
sampai apel sore usai.
Apel
sorepun usai kini saatnya pasukan pulang kerumah masing-masing, kulihat begitu
deras kucuran keringat diantara dahi dan tangannya, dia pun membersihkan
keringatnya dengan handuk yang terselip di pinggangnya sambil berjalan menuju
gerbang, dan alianapun masih sibuk dengan handuk yang ada di tanganya untuk
menghapus keringatnya, saat aliana berjalan menuju gerbang untuk pulang kerumahnya,
tak hentinya aku menatapnya di balik jendela ruang hall sekolah, kulihat
ayahnya sudah menunggu di depan gerbang dan siap mengantarnya untuk pulang.
Hilanglah
pandangan indahku setelah aliana berlalu pulang, tapi tak apa hari esok aku
akan bertemu dengannya kembali, karena dia besok berangkat sekolah sedangkan
aku salah satu pekerja Tata Usaha di sekolahnya.
Saat
latihanlah kali pertama aku mengenal aliana, sosok yang sedikit pendiam, tapi
penuh dengan semangat, aliana, mulai detik ini kau menjadi bagian dari kisahku.
Di pagi hari
Kerinduanku
pada parasnya mungkin akan terobati di pagi hari ini, aku yang kehilangan
pandangan indah sare kemarin, detik ini akan terobati, ya.. benar mengang
benar, kerinduanku terobati setelah semalaman tak hentinya diriku memimpikan
dan merindulkannya.
Pagi
ini dirinya bersekolah dimana sekolahnya merupakan tempat aku bekerja sebagai
stat Tata Usaha, aku menanti kedatangannya di balik jendela ruang hall dengan
di temani secanglir teh hangat di pagi yang cerah ini, aku mengawasi setiap
siswi yang baru datang kesekolah, namun tak kunjung juga ku dapati dia datang,
sendangkan waktu tealah menunjukan tepat pukul 07.30 daipun tak kunjung datang,
tiada lelah aku menanti kedatangannya, sampai akhirnya datang jugu seseorang
yang ku harapkan, aliana, di lihat di luar gerbang dia turun baru saja diantar
ayahnya, perlahan langkahnya memasuki gerbang sekolah akupun tak henti
memandanginya, diapun mulai memasuki gerbang ke dua dari sekolahku aku segera
berlari menuju gerbang ke dua yang tepat berada di samping ruang guru.
Tepat
sekali aku berada di hadapannya, akhirnya bertemulah aku dan saling berhadapan
tatapanku tak lepas dari matanya, sedikit senyumpun ku berikan padanya, diapun
membalas senyumku. Mulailah aku berkomunikasi dengannya, kuawali dengan sapahan
hangat untuknya.
“Selamat
pagi!!” Aku yang menyapa dengan penuh keramahan, “gimana kemarin cape ngak
latihannya?”
“pagi
juga kak”, lumayan sih kak masih ada sisa-sisa pegel ne”?
“
tapi serukan kemaren?” maaf ya… kemaren dah ngehukum kamu!”
“
Seru banget kak…! ,ahk.. ngal apa-apa kak lagian salah aku juga yang kurang di
siplin.”
“
Mau kelas ya? Barengan yuk… maka kaka, kaka juga mau ke kantin mau sarapan, dah
sarapan belum?
“
Iya ne mau kekelas, sekarang jadwalku piket, tapi kesiangan!, yuk.. bareng
kesana!”
Akupun
berjalan menuju kelas dan kantin bersama aliana, saat itu kelasnya berada tepat
di samping kantin yang kau tuju, padahal aku ke kantin tidak untuk sarapan
melainkan agar aku bisa berbincang dengannya, amun dia tak tahu akan semua itu.
Akupun duduk di kantin sambil memperhatikan aliana yang sedang piket di
kelasnya, selang beberapa menit bel masuk berbunyi siswa – siswipun bergegas
memasuki ruang kelas masing-masing. Akupun beranjak dari kantin menuju
ruang Tata Usaha untuk mengerjakan
setumpuk pekerjaanku
Selama
aliana kelas 7 SMP aku hanya sebatas kenal dan kenal saja, namun aku tidak bisa
berbohong atas sedikit perasaanku untuknya, sunguh aku tidak berani
mengungkapkan isi hatiku untuknya, karena ku tahu dia masih duduk di bangku
kelas 7, tapi aku yakin suatu saat akan ku ungkapkan isi hatiku untuknya. Kurawa
waktu akan berikan jawaban…
